Wat Sema Mueang Inscription, Thailand

Wat Sema Mueang Inscription (N.S.9)
Wat Sema Mueang Temple, Nakhon Si Thammarat, Thailand
Aksara : Post-Pallawa, Bahasa : Sanskrit
Masa :

source : sac.or.th (untuk gambar, keterangan dan alih aksara),

Wat Sema Inscription Face I

Muka Depan

Wat Sema Inscription Face 2

Muka Belakang

Alih Aksara Muka Depan :

  1. visāriṇyā kīṛttayā nayavinayaśauryyaśrutaśamakṣamā Continue reading

Prasasti Cikapundung, Bandung

Prasasti Cikapundung
Kampung Cimaung, Tamansari, Kota Bandung
Temuan pada tahun 2006

source : berkahlangkah, Tempo,

Prasasti Cikapundung

Ada sebuah penemuan baru di Bandung yang lebih tepatnya penemuan batu prasasti kuno, penemuan ini menambah daftar penemuan langka di Indonesia, sebelumnya pernah juga ditemukan kerangka yang diduga kerangka naga di tobali bangksa selatan, kemudian aja juga penemuan kerangka manusia purba di bali Memang Indonesia tempat yang penuh keunikan dan peninggalan yang unik.

Sebuah batu prasasti bertuliskan huruf kuno ditemukan di rumah seorang kakek bernama Oong Rusmana (62), warga Cimaung RT 07, RW 07, Kelurahan Taman Sari, Kecamatan Bandung Wetan, Kota Bandung, Jawa Barat, Selasa (5/10). Diduga batu itu benda purbalaka.

“Kalau dilihat dari tulisannya, itu memang tulisan kuno yang terdapat dalam batu prasasti,” kata Kasie Kepurbakalaan Disbudpar Jabar Romlah. Batu prasasti tersebut ditemukan di halaman rumah Oong menyatu dengan sebuah pohon.

Pagi tadi ia bersama tim peneliti dari Balai Arkeolog Bandung Drs Lutfi Yondri dan Tim Peneliti Madya di Balai Pelestarian Sejarah dan Nilai Tradisional Bandung Nandang Rusnandar mengecek langsung batu prasasti tersebut. Menurutnya, batu prasasti tersebut memiliki panjang sekitar 1,8 meter dan terdapat dua baris tulisan huruf kuno.

Penemuan prasasti kuno ini langsung ditangani oleh Tim Peneliti Madya di Balai Pelestarian Sejarah dan Nilai Tradisional Bandung, agar tidak terjadi perubahan bentuk karena terlebih dahulu disentuh oleh masyarakat banyak. Berdasarkan penyelidikan sementara Tim Peneliti Madya di Balai Pelestarian Sejarah dan Nilai Tradisional Bandung, tulisan yang terdapat dalam batu prasasti tersebut jika diartikan ke dalam latin kurang lebih seperti tulisan “”Ung ga l ja ga t, jal ma h dha p”. Artinya seperti “setiap manusia dimuka bumi akan mengalami sesuatu”. “Ini semacam prediksi untuk tidak melakukan sesuatu`, tapi ini harus diteliti lebih lanjut,” kata Romlah.

Tulisan dua baris yang terdapat dalam prasasti tersebut sangat rapih dan rata dengan rincian panjang tulisan pertama 15 sentimeter, kedua 20 sentimeter serta tinggi huruf 3,5 sentimeter dan 2,5 sentimeter.

Prasasti Logam

Prasasti Logam Ditemukan
di Gunung Semeru
01 Desember 2006

source : fariedrizky,

Malang, Kompas – Selain upaya penggalian situs Singosari yang keberadaannya terancam pembangunan permukiman, di kawasan Gunung Semeru juga ditemukan prasasti logam. Penemuan prasasti dalam bentuk lima lembaran logam di Desa Ngadas, Kabupaten Probolinggo, itu mengisyaratkan sangat pentingnya kawasan Jawa Timur (Jatim) di masa lalu.

Prasasti yang juga memperkuat adanya situs peninggalan bersejarah di lereng Gunung Semeru, meskipun sampai saat ini belum banyak dieksplorasi guna pendataan dan pendokumentasian yang bermanfaat untuk komparasi temuan benda bersejarah di lereng gunung.

Hal itu dikatakan Ketua Ikatan Ahli Arkeologi (IAAI) Wilayah Jatim Dwi Cahyono di Malang, akhir pekan lalu. “Penemuan benda-benda bersejarah di lereng Gunung Semeru masih relatif sedikit, padahal kemungkinan wilayah tersebut menyimpan banyak sekali peninggalan,” kata Dwi.

Gunung Semeru dengan puncaknya Mahameru ini merupakan wilayah “antara” dari prosesi peradaban masa akhir Majapahit sekitar abad XIV untuk memuliakan puncak Mahameru. Wilayah “antara” yang dimaksud itu berada di antara wilayah di kaki lereng Gunung Semeru seperti wilayah Tumpang, Jabung, dan Senduro, tempat-tempat banyak ditemukan peninggalan candi kuno.

Beberapa prasasti dan candi di lereng gunung tersebut antara lain Candi Walandit, Candi Kidal, Candi Jago, dan Prasasti Pakis Wetan. Menurut Dwi, tidak mustahil di wilayah “antara” itu masih banyak terpendam peninggalan bersejarah sebagai bagian yang dilalui untuk perjalanan suci menuju puncak Mahameru.

“Saat ini juga ditemukan berbagai informasi penting di wilayah “antara” tadi. Di antaranya di tepi Sungai Cokro bagian Bukit Cungkup di Desa Benjor ada peninggalan bangunan dengan struktur batu bata merah kuno,” kata Dwi.

Selain di Benjor, masih lagi di wilayah lainnya seperti di Desa Ngadas dengan penemuan bekas bangunan kuno dengan struktur bangunan batu bata merah kuno pula. Kemudian di wilayah Desa Pandansari, Kecamatan Poncokusumo, atau lebih atas lagi dari wilayah Kecamatan Tumpang menuju arah Gunung Semeru ditemukan bekas-bekas bangunan kuno yang terletak di sebelah timur Sungai Amprong.

Bangunan kuno di Desa Pandansari tersebut berada di tiga puncak bukit kecil. Selanjutnya, tak begitu jauh dari wilayah tersebut, persisnya di dekat air terjuan Coban Pelangi, dijumpai punden berundak.

Tantangan
Hingga kini belum ada penggalian data secara detail peninggalan-peninggalan bersejarah di lereng Gunung Semeru itu. Ini merupakan tantangan untuk dikerjakan, agar bisa dijadikan bahan perbandingan peradaban masyarakat masa lalu dari lereng Gunung Semeru. Sebab, selama ini sudah banyak ditemukan peninggalan bersejarah yang serupa di berbagai lereng gunung lainnya, seperti Gunung Lawu, Arjuno, dan Gunung Penanggungan.

Prasasti logam perunggu yang ditemukan di Desa Ngadas itu kini belum diketahui isinya. Prasasti itu besar kemungkinan menjadi warisan turun-temurun yang dilimpahkan kepada salah satu keluarga penduduk dan dikemas dalam sebuah kotak.

“Kotak berisi prasasti logam itu tadinya tidak mau dibuka jika tanpa didampingi dukun dari Desa Ngadas dan Desa Ngadisari,” kata Dwi. Pengungkapan benda bersejarah ini menambah koleksi penemuan peninggalan bersejarah lainnya di bagian atas lereng Gunung Semeru. (NAW)

Prasasti Pemalang

Prasasti Berhuruf Palawa Ditemukan di Pemalang
Senin, 26 Desember 2011

source : jatengnews,

PEMALANG (JT-News) – Seorang warga menemukan Prasasti batu bertuliskan huruf Palawa dan cap kaki kiri yang diperkirakan berusia lebih dari 100 tahun, di Gunung Gersuk kawasan Kesatuan Pemangkuan Hutan (KPH) Silarang, Kabupaten Pemalang, Jawa Tengah.

Staf Bidang Budaya Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Pemalang, Anggono, di Pemalang, Senin mengatakan, batu yang ditemukan warga di kawasan KPH Silarang diduga merupakan prasasti batu tulis berusia lebih dari 100 tahun, namun huruf Palawa yang terpahat di batu tua tersebut belum dapat dibaca.

“Petugas dari Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Pemalang sudah mengecek kondisi prasasti tersebut, namun karena huruf Palawa yang yang tertulis di batu itu tidak bisa dibaca dan diterjemahkan maka belum dapat diketahui asal usul serta usia pasti batu tulis tersebut,” katanya.

Selain terdapat huruf Palawa, kata dia, prasasti batu berbentuk agak oval dan pipih dengan ukuran berkisar 50×30 sentimeter tersebut juga terdapat cap kaki kiri manusia dan pada bagian tengahnya ada lubang tembus berdiameter kurang dari dua sentimeter. “Berdasarkan pengamatan sementara prasasti tersebut diduga telah berusia sekitar seratus tahun lebih, namun untuk detailnya diperlukan pengamatan dan penelitian lebih lanjut,” katanya.

Sementara itu, penemu prasasti batu bergambar telapak kaki tersebut, Mamang (40), warga Desa Mengori, Kecamatan Pemalang mengaku tidak sengaja menemukan batu bersejarah itu, bahkan semula mengira batu tersebut hanya batu gunung biasa. Ia menjelaskan, saat pertama kali melihat batu kuno tersebut dalam posisi sebagian permukaan batu tertutup tanah di dekat semak-semak, setelah diambil dan dibersihkan ternyata ada gambar menyerupai kaki kiri manusia dan tulisan huruf Palawa, sehingga langsung diambil dan dibawa pulang.

“Saya sudah sering ke kawasan hutan ini untuk berburu burung, namun baru sekarang melihat dan menemukan batu aneh tersebut, bahkan sebelumnya beberapa kali saya menemukan sejumlah kayu yang sudah mengeras seperti fosil tulang di sekitar KPH Silarang,” katanya.

Mamang alias Bejo mengatakan, sekitar lokasi penemuan prasasti batu tersebut jarang dirambah oleh manusia, karena suasananya sepi dan harus ditempuh dengan jalan kaki menerobos semak belukar untuk sampai di lokasi. “Kayu menyerupai fosil tulang sering saya ambil untuk dipajang di ruang depan, namun kalau menemukan prasasti batu baru sekali ini, sehingga langsung saya bawa pulang dan saya simpan di rumah sampai sekarang,” katanya.

Menurut dia, beberapa petugas dari dinas pariwisata setempat sempat melihat dan meneliti prasasti batu tersebut namun tidak membawanya, sehingga sampai sekarang batu tua berusia 100 tahun lebih itu masih terpajang di rumahnya. (ant/JT-1)