Rock Art of Borneo (Kalimantan)

Rock Art of Borneo (Kalimantan)
20.000 BC – 10.000 BC

source : ngm.nationalgeographic.comnews.nationalgeographic.comarchaeology.org, Wikipedial.Orgaliansyah80.blogspot.com,

The Tree of Life , Batang Garing, Pohon Kehidupan dari Gua Tewet
Photo by Peter Carsten

Para Arkeolog Perancis dan Indonesia dan cavers telah menemukan bukti pemukiman manusia dari (di) Zaman Batu (Stone Age) di gua-gua Kalimantan, Indonesia. Tulang manusia dan hewan, keramik, dan arang ditemukan di gua-gua menunjukkan bahwa manusia telah memasak dan makan di sana sekitar 10.000 tahun yang lalu.

Saat penemuan pada tahun 2003 itu (yang kemudian diumumkan dalam edisi Agustus 2005 National Geographic) peneliti mengamati dan memotret cetakan tangan dan desain kuno pada permukaan gua. Secara kebetulan, anggota tim menemukan sisa-sisa peninggalan manusia.

Sebelumnya, di Kalimantan, pemukiman paling awal manusia diketemukan di daerah Sabah, Sarawak, dan Brunei. “Ini adalah bukti pertama kalinya situs manusia ditemukan di pedalaman Kalimantan,” kata Luc-Henri Fage, seorang caver Perancis dan co-leader ekspedisi.

Photo by Peter Carsten

Selama ekspedisi sebelumnya, pada Maret 2003, Fage dan Serge Caillaut telah menemukan ukiran kuno bermotif sarang lebah di dinding gua dan guci keramik untuk pemakaman di sebuah gua yang dikenal sebagai Liang Karim.

Pegunungan Marang di semenanjung Mangkalihat dari timur Kalimantan.
Pada tahun 1992, Fage (17 tahun sebelumnya telah melakukan penelitian) dengan Jean-Michel Chazine, seorang arkeolog Perancis dan spesialis dalam prasejarah Oseania melakukan penelitian. Dua tahun kemudian, mereka menemukan lukisan prasejarah di Ilas Kenceng, Kalimantan Timur. Pada tahun 1995 Pindi Setiawan, seorang antropolog Indonesia, bergabung dan bersama-sama mereka menemukan puluhan gua-gua dengan lukisan di seluruh wilayah, beberapa dengan desain unik mengisyaratkan pada orang yang kesurupan.

Gua Tewet di Pegunungan Marang, Semenenjung Mangkalihat, Kutai Timur, sebuah gua yang dinamai sesuai dengan salah satu pemandu yang paling berpengalaman dalam ekspedisi itu. Lukisan-lukisan di dalam gua sekitar 200 dicap tangan yang mampu bertahan sangat lama, bersama dengan gambar hewan dan manusia. Sekitar setengah dari lukisan tangan itu tertutup dengan titik-titik, garis, seperti tanda kepangkatan, atau pola lainnya jika dihitung lebih dari 50 kombinasi.

Pegunungan Marang di Kalimantan Timur terdapat 25 gua dengan lukisan yang sejak zaman es yang terakhir, lebih dari 10.000 tahun yang lalu. Dua kelompok gua dihiasi dengan ratusan stensil tangan telah ditemukan di timur laut Kalimantan, di dalam wilayah perbatasan Indonesia. Sebuah ekspedisi Perancis-Indonesia yang bekerja atas nama Kementerian Pariwisata Indonesia dan France’s National Center for Scientific Research yang dipimpin oleh Jean-Michel Chazine dan speleologist-fotografer Luc-Henri Fage, tidak menemukan bahan arkeologi di gua-gua, sehingga mereka menduga bahwa mereka mungkin digunakan sebagai tempat perlindungan. Berdasarkan perbandingan dengan gaya lukisan gua di pulau-pulau terdekat, para peneliti percaya seni garca (gambar cadas) mungkin telah ada antara 8.000 dan 20.000 tahun.

Kalimantan merupakan daerah seluas Perancis dan tetap belum pernah diadakan penelitian arkeologis sampai 1992, ketika para peneliti Prancis mulai survei sistematis. Investigasi sebagian besar gua-gua kapur, Chazine dan Fage menemukan banyak sisa-sisa tempat tinggal, kemudian, pada tahun 1994, mereka menemukan gua yang digambar/dihiasi, mereka juga menemukan dua gua paralel, satu terletak di atas sekitar 60 stensil lain dan mengandung masing-masing lukisan tangan. Dikenal sebagai Gua Masri, sesuai dengan nama pemandu ekspedisi, gua-gua memiliki tiga panel dengan stensil tangan dalam susunan yang memiliki tujuan/alasan tertentu; tangan kiri dan kanan bergantian disusun dalam desain seperti kipas.

Di pegunungan terdekatnya (bersebelahan) dikenal sebagai Ilas kenceng berisi sedikitnya 200 lukisan, termasuk beberapa stensil tangan 140 serta figur antropomorfik dan zoomorphic, garis, dan titik. Lukisan-lukisan yang ditemukan di dinding dan langit-langit dan dalam relung dan ceruk, pada ketinggian antara tiga dan 30 meter di atas lantai ini. Beberapa sangat terkikis atau ditutupi oleh arus stalagmitic tebal, sementara yang lain terlihat sangat bagus (terlihat jelas). Salah satu fitur yang tidak biasa adalah bahwa beberapa tangan mengandung garis-garis internal atau titik-titik yang sesuai dengan yang diketemukan dalam seni garca (gambar cadas) asli Australia (Aborigin). Berbagai unsur warna yang digunakan adalah hitam, ditambah sedikitnya empat macam mulai dari coklat-hitam ke merah terang. Di langit-langit satu daerah tiga gambar binatang bertanduk, salah satu yang mungkin menjadi banteng (Bos javanicus), sebuah bovid hutan liar yang hampir punah. Dua lainnya mungkin rusa. Sehingga Chazine menyimpulkan adanya keterkaitan yang erat antara seni batu Kalimantan dan Australia .

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s